IBX5980432E7F390 Cara dan gaya berkomunikasi masyarakat pedesan yang hampir punah akibat perkembangan tekhnologi komunikasi - The Art of Information

Cara dan gaya berkomunikasi masyarakat pedesan yang hampir punah akibat perkembangan tekhnologi komunikasi

Cara dan gaya berkomunikasi masyarakat pedesan yang hampir punah akibat perkembangan tekhnologi komunikasiPerkembangan tekhnologi informasi yang menghadirkan sejumlah perangkat canggih  di tengah-tengah kita belakangan ini disadari atau tidak telah  merubah cara dan gaya  berkomunikasi di masyarakat. Bukan hanya masyarakat perkotaan loh..  bahkan masyarakat yang tinggal dipedesaan pun ikut berubah. Apa saja cara dan gaya berkomunikasi masyarakat pedesan yang hampir punah akibat perkembangan tekhnologi tersebut? Berikut perubahan cara dan gaya berkomunikasi masyarakat pedesan yang hampir punah akibat perkembangan tekhnologi yang  berhasil penulis himpun dari ingatan penulis.


      2. Berkomunikasi sambil  nyiaran
Kata nyiaran dulu sangat popular dikalangan ibu-ibu  di daerah perkampungan khususnya di Banten. Nyiaran adalah kegiatan mencari kutu yang dilakukan oleh beberapa orang ibu-ibu yang duduk berbaris saling membelakangi, masing-masing mencari kutu rekan didepannya. Lucunya tak jarang mereka bahkan sampai membentuk lingkaran kecil, tujuannya agar yang duduk paling depan bisa mencari kutu rekanya yang duduk paling belakang. Pada saat kegiatan inilah komunikasi terjadi. Puluhan tema mereka perbincangkan dari mulai tema keluargaku, tema lingkunganku, sampai tema sosial budaya pun mereka bahas. Tak jarang mereka tertawa lepas melupakan rasa asin kutu yang mereka gigit.

 2.   Berkomunikasi sambil Nyepah (nginang)
Ibu-ibu yng Nyeupah (nginang) belakangan ini jarang sekali saya lihat di perkampungan, dikampung penulis sekitar 10 tahun yang lalu kegiatan ini masih sering dijumpai, beberapa orang ibu-ibu separuh baya duduk berdampingan dibalai bambu depan rumah asik ngobrol sambil sesekali meludahkan cairan berwarna merah dari mulut mereka, jangan salah sangka kawan, cairan merah itu bukan darah tapi air liur yang bercampur dengan larutan sirih, buah pinang dan gambir serta kapur yang mereka gulung jadi satu kemudian dikunyah dan menghasilkan cairan merah. Bahagia jelas terlihat saat mereka asik berbincang tingkah lucu anak cucunya.

3.  Berkomunikasi dengan Kokol (kentongan)
Kalau yang satu ini saya yakin ditempat saudara-saudara pun ada, jadi tak perlu saya bahas lagi ya, yang jelas akibat perkembanga tekhnologi komunikasi kokol atau kentongan ini belakangan jarang di gunakan sebagai alat komunikasi.

Ketiga cara berkomunikasi tersebut diatas sudah jarang penulis lihat di perkampungan, masyarakat dikampung-kampung lebih suka ngegosip di media sosial,  hal ini menyebabkan hubungan sosial antar warga kampung kurang terjalin dengan baik. Betapa tidak setip hari mereka (termasuk saya) sibuk dengan dunia maya , sedikit sedikit update status, sedikit sedikit upload foto setelah itu berdiam diri seperti orang yang sedang bertapa menunggu bunyi “kling” hape nya. Kita sering tidak ngeh saat ada orang yang lewat dan menyapa. Kita menar-benar sibuk, sibuk menunggu like ribuan teman yang sebenarnya tak perduli dengan kita, sementara disisi lain kita mengabaikan sapaan hangat tetangga yang selalu mengantar sepirik lauk saat mereka masak enak.
Dalam postingan ini, saya ingin mengingatkan pada kita semua, bahwa dunia kita ini nyata, benar benar nyata, tertawa itu adalah suara yang tercipta dari rangkaian kebahagianan yang dibuat bersama sesama.



Subscribe To Get Latest Articles :